16 Juli 2007

Game Kekerasan Memberikan Dampak Negatif Bagi Remaja

Belakangan, peredaran game kekerasan tengah disorot karena dianggap terlalu banyak memberi dampak negatif. Namun berdasarkan penelitian, para remaja mengaku game kekerasan malah membantu mereka dalam melampiaskan rasa marah.


Hal itu diungkapkan dari penelitian yang dilakukan oleh Pusat Kesehatan Mental dan Media Massachusetts General Hospital (MGH). Menurut penelitian tersebut, sebagian besar remaja memainkan video game dengan harapan untuk mengontrol mental mereka seperti perasaan stres dan marah. Khusus bagi yang memainkan game kekerasan, cenderung dilakukan untuk melampiaskan rasa marah.

Game paling favorit di kalangan remaja putra dari hasil survei ini, ditempati oleh 'Grand Theft Auto' yang juga menjadi favorit kedua bagi remaja putri setelah 'The Sims'.

"Berbeda dari stereotipe game solitary yang tanpa kemampuan sosial, kami menemukan bahwa anak-anak yang memainkan game kategori dewasa lebih suka bermain dalam sebuah kelompok di ruangan yang sama ataupun melalui Internet," ujar Cheryl Olsen, co-director Pusat Kesehatan Mental dan Media Massachusetts General Hospital.

Survei ini melibatkan 1.254 anak-anak Amerika Serikat (AS) yang mewakili berbagai lapisan sosial ekonomi, ras dan wilayah tempat tinggal. Hasil survei ini sekaligus juga ingin menepis mitos bahwa perkembangan game kekerasan dapat menganggu mental remaja, seperti yang sedang hangat diperdebatkan.

"Kami berharap penelitian ini bisa dijadikan langkah awal untuk menetralisir perdebatan yang menyebutkan game kekerasan sangat berbahaya dan dapat menghancurkan lingkungan. Padahal situasinya harus diperjelas, konten game apa yang berbahaya untuk anak-anak," tukas Olsen.

Game kekerasan yang saat ini tengah disorot adalah 'Manhunt 2' keluaran Rockstar yang telah ditentang beredar di sejumlah negara seperti Irlandia dan Inggris. Sebagai bentuk perlawanan, para pecinta game sampai membuat petisi online untuk memprotes pelarangan ini.

Sumber: Detik Portal




Harry Potter and the Order of the Phoenix Review

Petualangan Harry Potter dimulai lagi. Tak sendiri, kini ia dikawal oleh pasukan Order of the Phoenix. Voldemort yang nyaris berwujud sempurna kembali dengan kekuatan penuh.
Kisah Harry Potter (diperankan Daniel Radcliffe) dimulai saat sang bocah berkekuatan luar biasa itu dikeluarkan dari sekolah sihir Hogward. Lewat persidangan di Kementrian, nasib Harry terselamatkan dengan bantuan sang kepala sekolah Albus Dumbledore.
Kembali ke tahun kelimanya di sekolah sihir itu, Harry bertingkah aneh. Sikapnya kasar dan membuat dua sahabat baiknya. Ron (Rupert Grint) dan Hermione (Emma Watson) harus ekstra sabar menghadapi Harry.
Belum lagi kondisi Hogward pun sedang tidak sehat. Mentri Cornelius Fudge meragukan Dumbledore, lewat koran harian The Daily Prophet berita bohong tersebar dengan luasnya. Harry Potter juga sempat dituding sebagai penyebar kebohongan karena ia percaya Voldemort telah kembali.
Bukan hanya percaya. Voldemort memang kembali. Harry bisa merasakannya. Sejak awal Harry dan Voldemort punya ikatan kuat satu sama lain. Wujud Voldemort nyaris sempurna, kekuatannya pulih. Namun masih ada satu lagi benda penting diincarnya dan hanya Harry yang bisa membawa benda itu pada Voldemort.
Pengajar baru Dolores Umbridge utusan kementrian terus menguasai sekolah. Dengan didikannya, Harry berontak dan membuat perlindungan sendiri bersama sekelompok temannya. Akhirnya Harry tak harus berjuang sendiri seperti yang sudah-sudah. Penjahat sekaliber apapun takkan mungkin menghancurkan sebuah cinta.
Harry menemukan itu juga dari Sirius, salah satu anggota Order of the Phoenix yang juga ayah baptisnya. Order of the Phoenix adalah sebuah organisasi yang didirikan Dumbledore untuk melawan Voldemort dan pengikutnya, the Death Eaters.
Secara keseluruhan film ke-5 kisah Harry Potter ini masih semenarik film-film sebelumnya. Namun ada beberapa bagian yang terpotong bila dibandingkan dengan novel asli karangan J.K Rowling tentunya. Ada beberapa isyarat dan hal yang tak tergambar dengan jelas. Jika Anda tak mengikuti kisah ini dari serial pertamanya mungkin agak bertanya-tanya.
Kisah cinta Harry Potter juga tergambar abstrak. Beberapa tokoh fantasi baru masih sanggup membuat Anda tercengang. Namun dari segi cerita, kisah film ini kalah seru dari novelnya. Terkesan lebih drama dari biasanya.
Tapi itu tentu saja tak menyurutkan rasa ingin tahu Anda dengan kisah ini. Banyak mantra baru "bekerja" di sini. Persahabatan, cinta dan persekutuan jadi satu bumbu manis mengawali perjalanan Harry Potter menuju masa remajanya.

Sumber: Detik Portal

Creative Zen Neeon 2 Review

Creative Zen Neeon 2 merupakan MP3 + Video player dengan layar warna yang cukup diminati oleh kawula muda saat ini selain iPod. Selain harganya cukup terjangkau, Creative sering berpromosi dengan memberikan hadiah langsung pembelian produk mereka. Setiap pembelian produk Creative Zen Neeon 2 ini mendapat hadiah speaker external Travel Sound 200.



Fitur & Spesifikasi:

- 1.5 inch OLED Display with 65.000 color
- Voice recorder
- Rechargeable Li-ion Battery
- Up to 20 hours audio playback
- Up to 5 hours video playback
- FM Radio
- Photo store
- Memory 512MB or 1GB

Harga Creative Zen Neeon 2 512 MB - Rp 450.000,- s/d Rp. 467.000,-
Harga Creative Zen Neeon 2 1 GB - Rp 1.150.000,- s/d Rp. 1.195.000,-

Kelebihan: Harga cukup murah untuk yang 512MB dan ketahanan batere cukup memadai serta dilengkapi dengan FM Radio dan casing juga dapat diubah-ubah serta ada bonus speaker external
Kekurangan: Model dan bentuk casing standar tidak terlalu bagus dan layar warna kurang begitu terang

Penulis: Erwin